Home > Curhat, Tips > Pengalaman Mudik 2012

Pengalaman Mudik 2012

Mungkin udah basi ya kalo ngomongin mudik, soalnya udah kelewat beberapa minggu setelah lebaran. Akan tetapi berhubung udah lama banget gak nulis trus males ngebahas yang lain, jadi ya ngebahas ini saja yak. Boleh dibilang mudik pada tahun ini lumayan berkesan, bukan karena saya mudik pada hari H setelah sholat ied, dan bukan karena berkembang kabar gak bener di keluarga besar kalo saya mau studi di perancis yang gak tau asal mula kabarnya, ataupun karena nyokap yang marah2 soalnya macet plus mabuk. Selain bertemu dengan saudara jauh, yang terpikirkan oleh saya dari kecil sampai sekarang saat melakukan mudik adalah jalan2. Selain melihat pemandangan alam ataupun pemandangan mobil macet, nilai lebih dari mudik adalah wisata kulinernya. Yup, keluarga kami tidak pernah menjadwalkan untuk berangkat mudik jam berapa, jadi kemungkinan saat jam makan siang ataupun jam makan malam, sangat bervariasi keluarga kami akan makan dimana. Keluarga kami memang sengaja memilih rumah makan yang agak besar, bukan maksud nyombong, tapi karena pengalaman sebelumnya bahwa rumah makan kecil harganya hampir sama mahalnya dan jujur aja gak memuaskan rasanya.

sumber: twitter.com/ayomudik2012

Untuk mudik kali ini, berbeda dengan tahun2 sebelumnya yang menyempatkan untuk makan di Pringsewu, tahun ini keluarga kami gak mampir ke restoran yang bahkan sudah memasang iklan di jauh2 tempat. Untuk berangkatnya sendiri, siang hari kami berhenti untuk makan di KM 88 di tol cipularang. Disana gak ada yang spesial, justru panas yang minta ampun sangat terasa, sampai adik saya protes2 kenapa bandung lebih panas daripada tempat dia kuliah yaitu di Surabaya, mungkin panas banget gara2 banyak kendaraan disana kali ya. Untuk malamnya, saya mencoba rumah makan yang belum pernah saya coba, kalo gak salah namanya Kuto Resik, di daerah mana saya kurang ingat. Yang jelas menu spesial dari rumah makan itu yang saya coba adalah Sup Nila Merah dan Nila Merah Bakar. Menurut saya, dari segi rasa sangat enak, untuk sup-nya yang mengkin bukan seperti sup yang biasanya karena sedikit kental dan rasa yang sedikit spicy yang menambah rasa enak, dan untuk nila bakarnya mungkin seperti ikan bakar pada umumnya hanya saja sambal sudah disatukan dengan ikan bakar jadi semi2 ikan penyet gitu.

Mungkin ada faktor saya penggemar ikan, atau karena ada faktor lapar, yang jelas saya puas makan disitu, dan perjuangan untuk menahan untuk tidak makan sampai jam 9 lewat karena tidak menemukan rumah makan yang cocok pun terbalaskan. Selain itu tempatnya bagus, dan punya mushola yang cukup besar, dan bisa digunakan untuk tiduran. Sayangnya saya tidak memfoto makanan tersebut karena memang sebelumnya tidak ada niatan untuk menuliskan hal tersebut di blog. Pada saat pulang, mudik lebih terasa menyenangkan, kenapa saya bilang begitu, karena bisa dibilang mudik saya tidak kena macet. Untuk informasi saja, tujuan mudik saya tahun ini adalah ke Kebumen Jawa Tengah, dan rumah saya di Bekasi. Saat perjalanan pulang, bokap memutuskan untuk melewati pantai selatan, jadi dari arah kebumen perlu ke selatan lebih dahulu sampai sekitar Pantai Bocor, baru sampai daerah sana, mulai menuju ke barat. Nanti kita bisa bertemu di jalur utama di sekitar Wangon. Jika dibandingan, untuk rute tersebut akan lebih lama karena berputar2 menyebrangi gunung, tapi yang jelas kita tidak akan merasakan macet di daerah Karanganyar – Gombong – Tambak – Simpuih sangat yang rawan macet, terutama Gombong yang hampir 100% macet.

Mungkin ada yang perlu saya beritahukan disini, medan jalan jika melewati rute ini sangatlah sulit, bukan karena jalan jelek, akan tetapi karena jalan sempit serta naik turun dikombinasikan dengan belokan tajam dari 90 derajat sampai seperti putar balik. Malah ada belokan membentuk sudut sekitar 30 derajat dengan kondisi naik, kemudian belok dengan kondisi turun. Yang jelas itu jalan ekstrim, dan tidak bisa dibandingkan dengan jalur nagrek-malangbong. Tapi tenang saja, karena di setiap belokan tajam selalu ada remaja atau anak kecil yang membantu. Keunggulan selain tidak mendapatkan macet adalah rute ini melewati pantai selatan otomatis ada pemandangan alam yang keren. Misal saja dari posisi di gunung tadi kita bisa melihat Pantai Ayah / Pantai Logending dari atas, dan pemandangannya sungguh keren, dan saya lihat ada beberapa pengendara motor yang turun untuk mengabadikannya sebagai background foto. Saya sempat merekamnya, cuman kalo diliat dari kamera entah kenapa hasilnya tidak sebagus aslinya. Oleh karena itu jika ada kesempatan, silahkan mencoba untuk melewati rute ini. Mungkin juga karena foto-foto ini adalah potongan frame dari video yang saya rekam.

Hal yang mau saya bahas lagi mungkin adalah makan siang, pada jam 1 siang saya berada di sekitar Lumbir, dan ada rumah makan yang menurut saya sayang kalo tidak dicoba, kalo tidak salah namanya rumah makan Bu Endang. Rumah makan tersebut fokus pada ayam goreng kampung. Jujur saja, menurut saya rasanya sangat enak walaupun mungkin ukurannya kecil. Selain itu pelayanannya sangat cepat, apalagi lalapan serta sambal gratis dan bertemakan fast food serta nasi BEBAS ambil. Dari saya pesan sampai diantarkannya minuman serta ayam goreng panas itu sekitar 4-8 menit, dan menurut saya cepat bila melihat jumlah pengunjung yang ada saat itu. Selain ayam goreng juga ada menu2 lain hanya saja tidak saya coba. Yang jelas saya sangat kenyang disana dan habis 2 piring nasi serta 2 potong paha goreng.

Mungkin tips lain agar tidak menghindar macet pada saat menggunakan rute jalur selatan adalah, pada saat di daerah Banjar, masuk ke jalur alternatif ke arah selatan sehingga tidak melewati daerah yang tanpa diduga2 menimbulkan macet yang cukup parah yaitu Cijeungjing. Jika melewati jalur alternatif tersebut akan tembus di tasik bagian selatan dan sekalian saja lewat Garut untuk menuju ke tol Cileunyi. Kelebihan melewati garut adalah menghindari kemacetan di daerah Ciawi-Malangbong yang sangat rawan macet, walaupun mungkin jarak yang ditempuh sedikit lebih jauh. Memang mungkin ada macet selama 15-30 menit dikarenakan adanya sistem buka-tutup, namun keluarga saya yang melihat macet tersebut memutuskan untuk makan malam di kota Garut. Beruntungnya ketika selesai makan siang, kemacetan sudah hilang dan dapat melakukan perjalanan secara lancar lagi. Untuk makan malam sengaja tidak saya bahas karena mengecewakan.

Bisa dibilang postingan saya sudah cukup panjang, dan mungkin sudah saatnya saya mengakhiri postingan kali ini, sebagai informasi saja waktu yang dibutuhkan untuk jalur pulang dengan rute yang saya sebutkan tadi membutuhkan waktu kurang lebih 10-11 jam tanpa waktu makan dan sholat, memang lebih lama dibandingkan jalur utama, tapi satu keunggulan yaitu tidak mendapatkan macet. Semoga postingan ini bermanfaat😀

Categories: Curhat, Tips
  1. September 7, 2012 at 9:18 am

    yap, yang penting ngga macet…….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: